You dont know what you got till its gone. Mungkin itu kata-kata yang tepat menggambarkan perasaan ketika berita meninggalnya Steve Jobs, founder dan CEO Apple menyebar. Bahkan saya tidak menyangka ibu saya yang kesulitan mengetik sms pun alias tidak melek teknologi, sampai bertanya-tanya, "emang siapa sih Steve Jobs itu?" Ini karena berita-berita di TV sedemikian besar memberi perhatian, termasuk stasiun TV di Indonesia padahal produk Apple masih menjadi barang mewah dan
Showing posts with label Brand. Show all posts
Showing posts with label Brand. Show all posts
Saturday, October 22, 2011
Membaca Lagi Logo Apple dengan Rob Janoff
You dont know what you got till its gone. Mungkin itu kata-kata yang tepat menggambarkan perasaan ketika berita meninggalnya Steve Jobs, founder dan CEO Apple menyebar. Bahkan saya tidak menyangka ibu saya yang kesulitan mengetik sms pun alias tidak melek teknologi, sampai bertanya-tanya, "emang siapa sih Steve Jobs itu?" Ini karena berita-berita di TV sedemikian besar memberi perhatian, termasuk stasiun TV di Indonesia padahal produk Apple masih menjadi barang mewah dan
Thursday, September 15, 2011
Parodi Logo
Nyasar di salah satu website, nemuin posting yang isinya memparodikan logo-logo terkenal. Jika Brand adalah" apa yang orang pikirkan tentang sebuah produk atau jasa" maka setidaknya kita bisa melihat sisi lain dari brand sebuah produk dan jasa. Contohnya pada logo MAC dengan tagline Appearance Cost, yang artinya harga dari sebuah tampilan, menyindir MAC yang mahal karena menaruh perhatian besar tampilan sehingga konsumen harus membayar lebih mahal.

Klik di sini, untuk cek logo lainnya.

Klik di sini, untuk cek logo lainnya.
Sunday, January 9, 2011
Cara Menghormati Sejarah ala Starbucks
Maret 2010 lalu, dalam rangka ulang tahun ke 40, Starbucks memperkenalkan hasil dari redesign logo mereka. Jika kita berpikir Starbucks akan membuat logo yang sama sekali baru, dugaan kita salah. Starbucks ternyata hanya mempertegas atau menguatkan simbol yang sudah ada selama ini. Satu langkah dramatis diambil oleh Starbucks, yaitu mereka dengan percaya diri menghilangkan tulisan "STARBUCKS" hal yang akan dilakukan jika simbol logo sebuah brand sudah sedemikian kuatnya sehingga tanpa memerlukan tulisan nama pun, audiens sudah sangat mengenalnya. Seperti yang dilakukan oleh Nike.
Howard Schultz, sang CEO menjabarkan konsep dibalik perubahan logonya sebagai cara untuk "embraces and respect our heritage." Check video Mr. Schultz di bawah ini:
Howard Schultz, sang CEO menjabarkan konsep dibalik perubahan logonya sebagai cara untuk "embraces and respect our heritage." Check video Mr. Schultz di bawah ini:
Sunday, February 7, 2010
Apakah Logo Itu Penting?
Perdebatan mengenai kontroversi redesign logo, misalnya redesign logo Pertamina atau Telkom dengan budget mahal, biasanya menimbulkan pertanyaan kritis yang menyeruak: Apakah logo itu penting?
Oke kalau begitu, bayangkan di dunia bisnis tidak ada satu pun perusahaan yang pake logo. Asli semuanya hitam putih!
Apakah logo itu penting?
Oke kalau begitu, bayangkan di dunia bisnis tidak ada satu pun perusahaan yang pake logo. Asli semuanya hitam putih!
Apakah logo itu penting?
Saturday, January 30, 2010
Microsoft Office 2010 : Energy, Impact and Connection
Dalam rilis yang ditulis di blog-nya, Microsoft Office menyebutkan bahwa logo mereka telah berubah dari logo berbentuk puzzle 4 warna yang melambangkan 4 aplikasi andalan mereka yaitu Word, Excel, Power Point dan Outlook menjadi logo baru yang salah satu elemennya diwakili warna orange.

Dan tentu saja, Microsoft Office merubah tampilan user interface mereka, misalnya salah satunya dengan menciptakan ikon-ikon huruf alphabet. Menurut mereka, riset menunjukan bahwa dalam proses asosiasi, user lebih mudah memahami ikon berbentuk alphabet dan warna daripada desain yang sifatnya abstrak.

Hadirnya Open Office sebagai produk open source saingan Ms Office, tampaknya membuat Ms Office benar-benar harus menaruh perhatian besar pada user experience dan di-support oleh upaya branding yang strategis, salah satunya dengan melakukan redesign logo mereka, yang menurut mereka melambangkan "Energy, Impact and Connection."

Dan tentu saja, Microsoft Office merubah tampilan user interface mereka, misalnya salah satunya dengan menciptakan ikon-ikon huruf alphabet. Menurut mereka, riset menunjukan bahwa dalam proses asosiasi, user lebih mudah memahami ikon berbentuk alphabet dan warna daripada desain yang sifatnya abstrak.
Hadirnya Open Office sebagai produk open source saingan Ms Office, tampaknya membuat Ms Office benar-benar harus menaruh perhatian besar pada user experience dan di-support oleh upaya branding yang strategis, salah satunya dengan melakukan redesign logo mereka, yang menurut mereka melambangkan "Energy, Impact and Connection."
Monday, January 18, 2010
"Saya butuh Logo & Branding" (EVENT)
Identitas menjadi penting ketika kita berkomunikasi. Dengan tujuan mengenalkan diri, jika sebuah institusi atau perusahaan bertemu kompetisi dan kompetitor, identitas dan brand menjadi sebuah faktor penentu.
Logo adalah visual entry point dari sebuah brand. Gerbang pertama target sasaran secara visual. Brand internasional seperti Starbucks, memiliki logo lingkaran berwarna hijau yang di dalamnya terdapat seorang Putri Duyung diapit dua bintang. Sebagai sebuah filosofi kuat, logo tersebut mencerminkan karakteristik lokal penduduk Pacific Northwest yang merupakan tempat asal Howard Schultz di Seattle, Amerika Serikat. Dengan konsistensi branding yang kuat, Starbucks pada akhir Maret 2008 memiliki 16.226 kedai di seluruh dunia.
Logo sederhana namun kuat tertanam lainnya adalah huruf M kuning dan tanda centang putih yang sangat dinamis. McDonald’s dan Nike merupakan perusahaan yang cukup konsisten dalam menerapkan logo perusahaan dengan sedikit sekali perubahan. Hal ini menjadi penting, karena visualisasi identitas merupakan sarana membangun awareness target sasaran. Informasi yang bertubi-tubi menghantam kepala target sasaran (konsumen, pengguna jasa, ataupun stakeholder) akan semakin mempertajam kompetisi. Selain menjadi semakin pintar, loyalitas akan menjadi sangat berkurang.
Logo membangun kekuatan daya saing, sekaligus menanamkan citra dan persepsi positif target sasaran di masa depan. Jawaban yang lebih sederhana adalah, kemampuan tercepat manusia dalam memahami sesuatu adalah melalui komunikasi visual.
Hal inilah yang belum disadari oleh para pelaku usaha, jasa, maupun institusi di Kota Semarang. Kota berlabel kota industri yang berpenduduk sebesar 1,5 juta jiwa dengan sebagian besar penduduknya berdagang, belum mampu menerjemahkan dan menerapkan pentingnya komunikasi visual melalui logo dan branding. Peran brand (retail, UKM, pemerintah, pendidikan, pariwisata maupun jasa) lokal Semarang hanya bisa menjadi jago kandang. Padahal secara perputaran uang, Semarang memberikan pendapatan 15% lebih bagi perekonomian Jawa Tengah.
Industri pengolahan nasional maupun internasional cukup kuat mengakar di kota yang mendapat julukan Venice Van Java ini. Beberapa industri jamu seperti Sidomuncul, Jamu Jago, Nyonya Meneer, dan industri minuman seperti Marimas, Sosro, hingga industri tekstil dan apparel seperti Golden Flower Group. Sebagai catatan, Golden Flower merupakan pemasok produk tekstil bagi Berca, pemegang lisensi Nike Indonesia. Sayangnya, Golden Flower belum berani menelurkan satu brand khas lokal, dan hanya bergantung pada pelabelan “swoosh”.
Kota Lumpia yang juga terkenal dengan kekayaan kulinernya ini, belum memiliki satu brand ikonik yang bersuara secara nasional apalagi internasional. Brand jasa kuliner nasional dan internasional, mulai melebarkan sayapnya ke Semarang dan lebih cepat mendapat tempat. Sebutlah martabak manis yang lebih terkenal dengan Kue Bandung. Mie Ayam yang mungkin secara isi, bumbu, dan rasa sama tapi lebih membawa kota Jakarta. Siomay Bandung lebih merajalela dan sudah dipastikan enak. Persepsi inferior terhadap kelokalan, dan superioritas “yang berasal tidak dari kota sendiri” seakan menjadi penyakit kronis. Logo dan Brand masih dianggap sebagai kebutuhan tersier yang tidak terlalu dibutuhkan dan mahal.
Pada tahun 2010, Indonesia akan mulai menjalankan kebijakan perdagangan bebas terutama dengan negara ASEAN dan RRC. Dengan konsekuensi nyata, produk asing akan membanjiri Indonesia dan Semarang dengan bebas dan mengancam keberadaan produk / brand lokal. Karena belum ada pondasi yang kuat ditambah pemahaman yang kurang akan pentingnya logo dan branding bagi penguatan brand lokal, bukan tidak mungkin masyarakat kita (Semarang khususnya) hanya akan semakin menjadi pengikut tren dan konsumen budaya serta produk luar.
Menghadapi tantangan tersebut, Program Studi Desain Komunikasi Visual UNIKA Soegijapranata Semarang dengan Forum Desain Grafis Indonesia (FDGI), menyelenggarakan Seminar dan Lokakarya (Semiloka) “Logo dan Branding”. Acara bertempat di Semarang, direncanakan berlangsung pada hari Rabu, 20 Januari 2010 pukul 09.00-16.00 WIB.
info & oendaftaran: Rio +6287834117929
http://www.facebook.com/event.php?eid=288362321857
Logo adalah visual entry point dari sebuah brand. Gerbang pertama target sasaran secara visual. Brand internasional seperti Starbucks, memiliki logo lingkaran berwarna hijau yang di dalamnya terdapat seorang Putri Duyung diapit dua bintang. Sebagai sebuah filosofi kuat, logo tersebut mencerminkan karakteristik lokal penduduk Pacific Northwest yang merupakan tempat asal Howard Schultz di Seattle, Amerika Serikat. Dengan konsistensi branding yang kuat, Starbucks pada akhir Maret 2008 memiliki 16.226 kedai di seluruh dunia.
Logo sederhana namun kuat tertanam lainnya adalah huruf M kuning dan tanda centang putih yang sangat dinamis. McDonald’s dan Nike merupakan perusahaan yang cukup konsisten dalam menerapkan logo perusahaan dengan sedikit sekali perubahan. Hal ini menjadi penting, karena visualisasi identitas merupakan sarana membangun awareness target sasaran. Informasi yang bertubi-tubi menghantam kepala target sasaran (konsumen, pengguna jasa, ataupun stakeholder) akan semakin mempertajam kompetisi. Selain menjadi semakin pintar, loyalitas akan menjadi sangat berkurang.
Logo membangun kekuatan daya saing, sekaligus menanamkan citra dan persepsi positif target sasaran di masa depan. Jawaban yang lebih sederhana adalah, kemampuan tercepat manusia dalam memahami sesuatu adalah melalui komunikasi visual.
Hal inilah yang belum disadari oleh para pelaku usaha, jasa, maupun institusi di Kota Semarang. Kota berlabel kota industri yang berpenduduk sebesar 1,5 juta jiwa dengan sebagian besar penduduknya berdagang, belum mampu menerjemahkan dan menerapkan pentingnya komunikasi visual melalui logo dan branding. Peran brand (retail, UKM, pemerintah, pendidikan, pariwisata maupun jasa) lokal Semarang hanya bisa menjadi jago kandang. Padahal secara perputaran uang, Semarang memberikan pendapatan 15% lebih bagi perekonomian Jawa Tengah.
Industri pengolahan nasional maupun internasional cukup kuat mengakar di kota yang mendapat julukan Venice Van Java ini. Beberapa industri jamu seperti Sidomuncul, Jamu Jago, Nyonya Meneer, dan industri minuman seperti Marimas, Sosro, hingga industri tekstil dan apparel seperti Golden Flower Group. Sebagai catatan, Golden Flower merupakan pemasok produk tekstil bagi Berca, pemegang lisensi Nike Indonesia. Sayangnya, Golden Flower belum berani menelurkan satu brand khas lokal, dan hanya bergantung pada pelabelan “swoosh”.
Kota Lumpia yang juga terkenal dengan kekayaan kulinernya ini, belum memiliki satu brand ikonik yang bersuara secara nasional apalagi internasional. Brand jasa kuliner nasional dan internasional, mulai melebarkan sayapnya ke Semarang dan lebih cepat mendapat tempat. Sebutlah martabak manis yang lebih terkenal dengan Kue Bandung. Mie Ayam yang mungkin secara isi, bumbu, dan rasa sama tapi lebih membawa kota Jakarta. Siomay Bandung lebih merajalela dan sudah dipastikan enak. Persepsi inferior terhadap kelokalan, dan superioritas “yang berasal tidak dari kota sendiri” seakan menjadi penyakit kronis. Logo dan Brand masih dianggap sebagai kebutuhan tersier yang tidak terlalu dibutuhkan dan mahal.
Pada tahun 2010, Indonesia akan mulai menjalankan kebijakan perdagangan bebas terutama dengan negara ASEAN dan RRC. Dengan konsekuensi nyata, produk asing akan membanjiri Indonesia dan Semarang dengan bebas dan mengancam keberadaan produk / brand lokal. Karena belum ada pondasi yang kuat ditambah pemahaman yang kurang akan pentingnya logo dan branding bagi penguatan brand lokal, bukan tidak mungkin masyarakat kita (Semarang khususnya) hanya akan semakin menjadi pengikut tren dan konsumen budaya serta produk luar.
Menghadapi tantangan tersebut, Program Studi Desain Komunikasi Visual UNIKA Soegijapranata Semarang dengan Forum Desain Grafis Indonesia (FDGI), menyelenggarakan Seminar dan Lokakarya (Semiloka) “Logo dan Branding”. Acara bertempat di Semarang, direncanakan berlangsung pada hari Rabu, 20 Januari 2010 pukul 09.00-16.00 WIB.
info & oendaftaran: Rio +6287834117929
http://www.facebook.com/event.php?eid=288362321857
Saturday, January 16, 2010
Logo 200 Tahun Kota Bandung Dilombakan (EVENT)
BANDUNG, (PRLM).- Kalangan pegiat desain serta masyarakat umum Kota Bandung berkesempatan mengikuti lomba logo ”200 Tahun Kota Bandung”. Logo yang memenangi perlombaan akan digunakan dalam berbagai kegiatan Kota Bandung selama tahun 2010. Selain sebagai ajang promosi, perlombaan logo ini juga menjadi wadah kepedulian warga Bandung terhadap kotanya.
”Dua ratus tahun merupakan usia yang sangat spesial. Kami mengharapkan logo ini dapat menjadi tanda ikatan bahwa ini dua ratus tahun usia Kota Bandung,” ujar salah seorang juri, Herry Hudrasyah.
Dalam perlombaan ini, dilibatkan setidaknya tiga orang yang menjadi tim juri, yaitu Sekda Kota Bandung Edi Siswadi sebagai Ketua Dewan Juri, Herry Hudrasyah dan Fiki C. Satari sebagai anggota dewan juri. Namun, pemilihan juga melibatkan Wali Kota Bandung dan publik Kota Bandung.
Herry menuturkan, perlombaan ini menjadi istimewa karena menjadi penanda visual perjalanan sejarah Kota Bandung. Oleh karena itu, salah satu indikator penilaian yang diterapkan adalah nilai-nilai yang terkandung dalam desain logo yang dibuat. ”Logo memiliki muatan masa lalu, nilai historis. Selain itu, juga harus bisa mengakomodasi apa yang diharapkan dan ingin dicapai,” tuturnya.
Rencananya, lomba logo akan dibuka 1 Januari hingga 26 Januari 2010. Desain yang terkumpul kemudian akan disaring oleh dewan juri untuk mendapatkan dua puluh desain logo terbaik. Selanjutnya, desain tersebut kembali disaring menjadi hanya lima desain untuk kemudian dibahas bersama wali kota. (A-179/A-147)***
http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=118810
”Dua ratus tahun merupakan usia yang sangat spesial. Kami mengharapkan logo ini dapat menjadi tanda ikatan bahwa ini dua ratus tahun usia Kota Bandung,” ujar salah seorang juri, Herry Hudrasyah.
Dalam perlombaan ini, dilibatkan setidaknya tiga orang yang menjadi tim juri, yaitu Sekda Kota Bandung Edi Siswadi sebagai Ketua Dewan Juri, Herry Hudrasyah dan Fiki C. Satari sebagai anggota dewan juri. Namun, pemilihan juga melibatkan Wali Kota Bandung dan publik Kota Bandung.
Herry menuturkan, perlombaan ini menjadi istimewa karena menjadi penanda visual perjalanan sejarah Kota Bandung. Oleh karena itu, salah satu indikator penilaian yang diterapkan adalah nilai-nilai yang terkandung dalam desain logo yang dibuat. ”Logo memiliki muatan masa lalu, nilai historis. Selain itu, juga harus bisa mengakomodasi apa yang diharapkan dan ingin dicapai,” tuturnya.
Rencananya, lomba logo akan dibuka 1 Januari hingga 26 Januari 2010. Desain yang terkumpul kemudian akan disaring oleh dewan juri untuk mendapatkan dua puluh desain logo terbaik. Selanjutnya, desain tersebut kembali disaring menjadi hanya lima desain untuk kemudian dibahas bersama wali kota. (A-179/A-147)***
http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=118810
Tuesday, May 5, 2009
Redesign Logo Avid
Avid, salah satu produsen software audio video editing yang di Indonesia lebih dikenal dengan pembuat Pinnacle Studio, pada tanggal 20 April lalu di Las Vegas mengeluarkan Press releasenya mengenai redesign brand mereka yang terbaru.
Sebuah logo dalam bentuk-bentuk segitiga geometris berwarna ungu yang merepresentasikan tombol volume up, volume down, play, pause, record dan forward mencoba menggambarkan pesan penggabungan core bisnis mereka yang bergerak di bidang audio video editing ke dalam satu simbol yang dimiliki bersama.
“Avid datang bersama sebagai satu perusahaan dengan penawaran-penawaran, strategi dan model operasi baru. Kita lebih kuat sebagai satu perusahaan daripada sebagai bagian-bagian yang terpisah dan kita punya kesempatan yang unik untuk membantu customer menggapai sukses lebih besar di dunia digital,” kata Gary Greenfield, Chairman dan CEO Avid.
Menurut rilis tersebut, sebelumnya, Avid adalah keluarga yang terpisah, yang melayani pelanggan software audio video editing masing-masing secara independen. Beberapa produk yang dikeluarkan oleh mereka adalah Avid, Digidesign(R), M-Audio(R), Pinnacle Systems(R) dan Sibelius(R) --
Merepresentasian “unifikasi” menggunakan pemilihan simbol volume up, volume down, play, pause, record dan forward dalam logo tersebut cukup tepat dengan core bisnis yang bergerak di bidang produsen software audio dan video editing, bahkan lebih kreatif lagi, simbol-simbol tersebut membentuk atau mengeja nama perusahaan AVID.
Unifikasi, identitas perusahaan audio video dan solusi membentuk kata AVID adalah koneksi yang relevan dalam eksekusi Brand Identiiy perusahaan AVID.
Upaya kreatif redesign Brand Identity AVID ini dibuat oleh tim dari Brand Union.


Aplikasi logo AVID di acara NAB SHOW 2009.
NAB Show adalah acaranya para broadcasters di Amerika.
Press Release:
http://ir.avid.com/releasedetail.cfm?releaseid=378199
Sebuah logo dalam bentuk-bentuk segitiga geometris berwarna ungu yang merepresentasikan tombol volume up, volume down, play, pause, record dan forward mencoba menggambarkan pesan penggabungan core bisnis mereka yang bergerak di bidang audio video editing ke dalam satu simbol yang dimiliki bersama.
“Avid datang bersama sebagai satu perusahaan dengan penawaran-penawaran, strategi dan model operasi baru. Kita lebih kuat sebagai satu perusahaan daripada sebagai bagian-bagian yang terpisah dan kita punya kesempatan yang unik untuk membantu customer menggapai sukses lebih besar di dunia digital,” kata Gary Greenfield, Chairman dan CEO Avid.
Menurut rilis tersebut, sebelumnya, Avid adalah keluarga yang terpisah, yang melayani pelanggan software audio video editing masing-masing secara independen. Beberapa produk yang dikeluarkan oleh mereka adalah Avid, Digidesign(R), M-Audio(R), Pinnacle Systems(R) dan Sibelius(R) --
Merepresentasian “unifikasi” menggunakan pemilihan simbol volume up, volume down, play, pause, record dan forward dalam logo tersebut cukup tepat dengan core bisnis yang bergerak di bidang produsen software audio dan video editing, bahkan lebih kreatif lagi, simbol-simbol tersebut membentuk atau mengeja nama perusahaan AVID.
Unifikasi, identitas perusahaan audio video dan solusi membentuk kata AVID adalah koneksi yang relevan dalam eksekusi Brand Identiiy perusahaan AVID.
Upaya kreatif redesign Brand Identity AVID ini dibuat oleh tim dari Brand Union.


Aplikasi logo AVID di acara NAB SHOW 2009.
NAB Show adalah acaranya para broadcasters di Amerika.
Press Release:
http://ir.avid.com/releasedetail.cfm?releaseid=378199
Friday, December 26, 2008
Logo Obama, A New Hope
Pemilu akan segera dimulai dan tim kampanye mulai beraksi ! dan salah satu yang dilakukan oleh tim kampanye adalah membangun image atau membangun citra positif pada partai atau tokoh yang diperjuangkannya.
Image berhubungan dengan elemen visual. Elemen visual bisa dijadikan salah satu alat untuk menciptakan suatu sensasi tertentu pada pikiran, sensasi yang dipilih tentunya adalah yang menghasilkan citra positif. "Pemimpin yang tulus" , "pemimpin yang peduli" "partai peduli rakyat kecil" "partai anti korupsi" dsb. Dalam membangun image, yang umum biasa dilakukan adalah dengan Branding. Bentuk kongkrit dari proses branding salah satunya adalah dengan membuat LOGO, sebagai representasi fisik dari pesan positif yang akan disampaikan.
Beberapa waktu lalu, Amerika telah mempertontonkan sebuah drama pemilihan Presiden. Tak dapat dipungkiri hal ini menyedot perhatian dunia, karena Amerika adalah sebuah negara adidaya. Pemilihan ini diasumsikan akan mempengaruhi kebijakan dan peta politik dunia. Media massa pun menaruh perhatian besar pada momen ini. Masih ingatkah, bagaimana debat calon presiden AS disiarkan di TV, begitupun manuver - manuver strategi kampanye calon, diskusi serius para pakar luar negeri di acara dialog TV kita, sampai dengan pidato kemenangan Obama di Grant Park, Chicago pada 4 November 2008 ? Dengan didukung oleh media massa, pencitraan kedua tokoh tersebut, khususnya Obama, menjadi begitu lekat.
Namun dari sekian banyak manuver strategi kampanye pemilihan tersebut, pernahkan anda memperhatikan bahwa tim kampanye Obama juga merancang sebuah logo? logo Obama?

Perancangan logo ini dibuat secara serius. Melibatkan sebuah konsultan branding dan desain studio asal Chicago, Sender LLC. Logo tersebut menggunakan elemen huruf "O" yang merepresentasikan nama Obama, yang dimulai dari huruf "O". Ide lain kemudian muncul yang menghubungkan huruf "O" tersebut sebagai "a rising sun" "a new day" sebagai matahari terbit yang muncul di atas sebuah horizon (garis merah putih), sebuah harapan baru.
Yang menarik lagi adalah logo ini dibuat dalam banyak versi, namun tetap berusaha konsisten menghubungkan elemen visual yang berubah-rubah dengan inti pesannya. Versi-versi tersebut mencakup dalam kategori-kategori seperti 14 versi logo untuk kategori People, sekitar 50 versi untuk kategori State, 1 versi untuk kategori Obama Biden dan versi lainnya yang dibuat dengan warna berbeda-beda untuk keperluan teknik reproduksi logo. Karena logo ini memang sengaja disebarkan untuk direproduksi dan bisa di download di http://www.barackobama.com/downloads/
Sebentar lagi PEMILU 2009 indonesia akan dimulai. Partai politik, calon presiden, calon legislatif semuanya berlomba-lomba meraih dukungan dengan berbagai cara. Coba perhatikan sejenak, ketika berangkat kerja, di perjalanan, coba hitung ada berapa bendera partai, spanduk, umbul-umbul, baliho yang berjejer di setiap sudut kota, stiker di kaca belakang angkot, di spakbor motor vespa tua, di kaos mang becak. Atau mungkin pernah kita merasa kesal ketika di lampu merah perjalanan kita terhambat oleh barisan panjang orang-orang pendukung partai atau seorang kandidat kepala daerah pasang aksi melakukan longmarch. Biarlah, ini memang saatnya kampanye.
Strategi yang dilakukan oleh tim kampanye Barack Obama, salah satunya melalui Branding yang efektif dan dijalankan secara profesional mungkin saja menjadi salah satu kunci sukses kemenangannya.
Bukan tidak mungkin, strategi ini bisa menjadi inspirasi bagi partai politik, tokoh atau calon legislatif di Indonesia untuk memenangkan pemilu 2009.
Why not?
Image berhubungan dengan elemen visual. Elemen visual bisa dijadikan salah satu alat untuk menciptakan suatu sensasi tertentu pada pikiran, sensasi yang dipilih tentunya adalah yang menghasilkan citra positif. "Pemimpin yang tulus" , "pemimpin yang peduli" "partai peduli rakyat kecil" "partai anti korupsi" dsb. Dalam membangun image, yang umum biasa dilakukan adalah dengan Branding. Bentuk kongkrit dari proses branding salah satunya adalah dengan membuat LOGO, sebagai representasi fisik dari pesan positif yang akan disampaikan.
Beberapa waktu lalu, Amerika telah mempertontonkan sebuah drama pemilihan Presiden. Tak dapat dipungkiri hal ini menyedot perhatian dunia, karena Amerika adalah sebuah negara adidaya. Pemilihan ini diasumsikan akan mempengaruhi kebijakan dan peta politik dunia. Media massa pun menaruh perhatian besar pada momen ini. Masih ingatkah, bagaimana debat calon presiden AS disiarkan di TV, begitupun manuver - manuver strategi kampanye calon, diskusi serius para pakar luar negeri di acara dialog TV kita, sampai dengan pidato kemenangan Obama di Grant Park, Chicago pada 4 November 2008 ? Dengan didukung oleh media massa, pencitraan kedua tokoh tersebut, khususnya Obama, menjadi begitu lekat.
Namun dari sekian banyak manuver strategi kampanye pemilihan tersebut, pernahkan anda memperhatikan bahwa tim kampanye Obama juga merancang sebuah logo? logo Obama?

Perancangan logo ini dibuat secara serius. Melibatkan sebuah konsultan branding dan desain studio asal Chicago, Sender LLC. Logo tersebut menggunakan elemen huruf "O" yang merepresentasikan nama Obama, yang dimulai dari huruf "O". Ide lain kemudian muncul yang menghubungkan huruf "O" tersebut sebagai "a rising sun" "a new day" sebagai matahari terbit yang muncul di atas sebuah horizon (garis merah putih), sebuah harapan baru.
Yang menarik lagi adalah logo ini dibuat dalam banyak versi, namun tetap berusaha konsisten menghubungkan elemen visual yang berubah-rubah dengan inti pesannya. Versi-versi tersebut mencakup dalam kategori-kategori seperti 14 versi logo untuk kategori People, sekitar 50 versi untuk kategori State, 1 versi untuk kategori Obama Biden dan versi lainnya yang dibuat dengan warna berbeda-beda untuk keperluan teknik reproduksi logo. Karena logo ini memang sengaja disebarkan untuk direproduksi dan bisa di download di http://www.barackobama.com/downloads/
Sebentar lagi PEMILU 2009 indonesia akan dimulai. Partai politik, calon presiden, calon legislatif semuanya berlomba-lomba meraih dukungan dengan berbagai cara. Coba perhatikan sejenak, ketika berangkat kerja, di perjalanan, coba hitung ada berapa bendera partai, spanduk, umbul-umbul, baliho yang berjejer di setiap sudut kota, stiker di kaca belakang angkot, di spakbor motor vespa tua, di kaos mang becak. Atau mungkin pernah kita merasa kesal ketika di lampu merah perjalanan kita terhambat oleh barisan panjang orang-orang pendukung partai atau seorang kandidat kepala daerah pasang aksi melakukan longmarch. Biarlah, ini memang saatnya kampanye.
Strategi yang dilakukan oleh tim kampanye Barack Obama, salah satunya melalui Branding yang efektif dan dijalankan secara profesional mungkin saja menjadi salah satu kunci sukses kemenangannya.
Bukan tidak mungkin, strategi ini bisa menjadi inspirasi bagi partai politik, tokoh atau calon legislatif di Indonesia untuk memenangkan pemilu 2009.
Why not?
Wednesday, May 30, 2007
Euro 2008 Identity
Menyongsong kompetisi sepakbola Euro 2008 yang akan dilaksanakan di Austria dan Switzerland pada bulan juni 2008, Uefa ternyata sudah siap dengan logo dan maskot untuk event tersebut.Logo tersebut bernuansa dinamis menggunakan coretan stroke yang ditampilkan bergerak bebas menyimbolkan pemandangan pegunungan Austria dan Switzerland.
Warna merah dan putih yang digunakan adalah warna khas bendera dari kedua negara tersebut. Logo yang telah diluncurkan di Vienna pada 7 Juni 2005 itu dibuat oleh English & Pockett sebuah design firm asal Inggris.
Sedangkan Warner Bros ditunjuk untuk membuat maskot resmi Euro 2008, yang diperlihatkan pada publik Vienna pada tahun 2006. TRIX &FLIX adalah nama maskot untuk Euro 2008, nama maskot tersebut dipilih oleh lebih dari 67.000 fans sepakbola di Austria dan Swiss.
Maskot tersebut bercirikan rambut lurus (rancung) yang masih menyimbolkan puncak gunung yang diambil dari bentuk logonya sendiri. Bruno Schwobthaler, dari Warner Bros mengatakan mereka membuat setidaknya 100 jenis figur alternatif untuk dikembangkan, yang akhirnya dipilihlah maskot kembar tersebut.
Go TRIX & FLIX, Go France! :)
Source :
http://www.sportslogos.net
http://www.zurichtourism.ch
http://www.uefa.com
Sunday, May 13, 2007
Cerita dari logo Nike dan Starbucks


Ada cerita menarik mengenai asal usul logo Nike dan Starbucks, ternyata logo2 itu tidak dibuat oleh desainer grafis terkenal melainkan oleh orang-orang yang berstatus atau disebut "student" pada masanya. Logo Nike dibuat pada tahun 1971 oleh Caroline Davidson mahasiswa Advertising Department of Portland State University pada saat dia magang di studio desain dosennya. Bukan cuma logo Nike aja, tapi logo Starbucks versi baru juga dibuat oleh seorang yang statusnya masih sebagai pelajar. Adalah Micheal Parent, mahasiswa jurusan marketing management yang juga seorang graphic designer yang melihat ada kecenderungan bahwa wanita pelanggan Starbucks merasa kurang nyaman dengan image Starbucks, karena logo yang dulu terlalu maskulin.
Setelah melakukan riset dan survey sana sini di outlet2 Starbucks, akhirnya dia mendapat ide baru untuk redesign brand Starbucks. Logo baru kemudian dibuat dan ditawarkan ke presiden director Starbucks, maka jadilah logo itu biasa kita liat di outlet2 Strabucks sekarang ini. Hebatnya lagi, dua logo ini menurut situs logoblog.com (sumber cerita ini) termasuk dalam kategori "the famous logo design".
Subscribe to:
Posts (Atom)

